ojk pertimbangkan peraturan dalam mendorong pinjaman fintech
Fintech

OJK Pertimbangkan Peraturan dalam Mendorong Pinjaman Fintech ke Sektor Produktif

Lembaga OJK (Otoritas Jasa Keuangan) telah mencatat penyaluran pinjaman untuk sektor produktif dari perusahaan fintech lending (teknologi finansial pembiayaan) masih dirasa kurang atau minim. OJK dan asosiasi fintech juga menyiapkan strategi dalam menekan penyaluran pinjaman ke sektor produktif yaitu melalui regulasi.

Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) 2 B OJK Bambang W Budiawan mengatakan, “porsi pinjaman untuk sektor konsumtif dan multiguna saat ini masih mendominasi penyaluran pinjaman fintech landing. Hingga akhir tahun 2020, prosi pinjaman produktif baru sebesar 35,7%”.

Selama enam bulan terakhir untuk pinjaman fintech lending nilainya berada di bawah Rp 1 juta atau masih di bawah segmen pinjaman kecil. Sedangkan untuk akumulasi penyaluran pijaman mencapai Rp 155,9 triliun atau naik sebesar 91,3% secara tahunan (year on year/yoy) dengan outsanding peminjaman hingga Desember 2020 mencapai Rp 15,3 triliun dan naik 16,4% yoy.

Pinjaman Fintech ke Sektor Produktif

Bambang juga mengatakan,”memang didesain tidak untuk memberikan pinjaman bernilai besar seperti sektor untuk koporasi, melainkan hanya untuk melayani kelompok masyarakat yang berpendapatan rendah.

Berdasarkan laporan DSResearch dan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) tahun 2020 telah menunjukkan bahwa 36,1% peminjam (borrower) di sektor produktif meminjam Rp 2,5 juta – 25 juta. Kemudian, hanya 17,6% lebih dari Rp 500 juta.

Berdasarkan data Asosiasi Fintech Indonesia menunjukkan bahwa, rata-rata pinjaman fintech lending di sektor produktif (DSResearch & AFPI November 2020) yang tertinggi yaitu pada pinjaman Rp 2,5 juta – 25 juta, terendah pada pinjaman Rp 25 juta – Rp 100 juta dan pinjaman Rp 100 juta – Rp 500 juta.

Namun pada masa pandemi seperti saat ini, OJK meyakini jika pinjaman produktif dapat berguna untuk memulihkan bisnis pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) yang sedang terpuruk bisnisnya.

Bambang mengatakan,”kami meyakini bahwa peningkatan pendanaan sektor produktif akan memberikan nilai tambah yang lebih besar dan turut menggerakkan perekonomian melalui segemen UMKM”.

Selain itu, jika pinjaman yang terlalu banyak menyasar ke sektor konsumtif, risiko kredit akan mengalami kemacetan yang susah dikendalikan. Oleh karena itu, OJK pun mendorong agar fintech lending banyak menyasar ke sektor produktif. “Semua platform fintech lending kami dorong turut menyalurkan pendanaan ke sektor produktif.”

Menyiapkan Regulasi dan Kolaborasi

 OJK menginginkan jika porsi pinjaman untuk sektor produktif dari fintech lending bisa mencapai 60% dari total. Dalam mencapai target tersebut, tahun 2021 OJK menyiapkan beberapa strategi. “OJK sedang proses membuat aturan perubahan di industri fintech lending yang akan mendorong pinjaman sektor produktif” ucap Bambang.

OJK pun telah menyiapkan regulasi tersebut sejak tahun 2020 lalu. Beleid tentang layanan pendanaan bersama yang berbasis teknologi informasi akan menyempurnakan aturan yang ada pada saat ini, yaitu Peraturan OJK (POJK) Nomor 77 Tahun 2016.

OJK juga kepada mendorong fintech lending menyalurkan pinjaman ke sektor produktif minimal 40% secara bertahap dalam tiga tahun, yaitu minimal 15% pada tahun pertama dan 30% pada tahun kedua. Aturan yang berlaku saat ini fintech lending baru diwajibkan untuk menyalurkan pinjaman ke sektor produktif minimal 20%.

Selain itu, OJK juga dapat mendorong penyelenggara fintech lending dapat berkolaborasi dengan pemerintah dan perbankan dalam menyalurkan pinjaman ke sektor produktif ataupun UMKM. Seperti tahun 2020 ketika OJK bekerja sama dengan AFPI dan pemerintah provinsi DKI untuk menyalurkan pinjaman bagi UMKM.

Adrian Gunadi Ketua Umum dari AFPI mengatakan, jika asosiasi memang berencana akan memperluas kolaborasi dengan berbagai ekosistem yang ada pada tahun ini. Kolaborasi yang akan digandeng mulai dari pemerintahan, perbankan dan juga perusahaan teknologi lainnya.

Tahun lalu tepatnya tanggal 30 September Adriang mengungkapkan,”ada lembaga keuangan atau ekosistem teknologi lain seperti e-commerce dan berbagi tumpangan (ride-hailing). Itu potensial karena terus tumbuh”.

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

More in:Fintech

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *