pinjaman fintech
pinjaman fintech
Fintech

OJK Pertimbangkan Peraturan dalam Menekan Pinjaman Fintech

embaga OJK atau Lembaga Otoritas Jasa Keuangan telah mencatat jika penyebaran pinjaman kepada sektor produktif oleh perusahaan fintech lending (teknologi finansial pembiayaan) masih dirasa kurang. OJK dan asosiasi fintechpun telah menyiapkan strategi dalam menekan penyebaran pinjaman ke sektor produktif yaitu melalui regulasi.

Dilansir dari Katadata.co.id kemarin (5/2/2021), Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank 2B OJK Bambang Budiawan mengatakan, “Alokasi dalam pinjaman untuk sektor konsumtif dan multiguna yang pada saat ini masih mendominasi dalam penyebaran pinjaman fintech lending. Pada akhir tahun 2020, prosi pinjaman produktif baru mencapai 35,7%”.

Dalam kurun waktu enam bulan terakhir peminjaman fintech lending nilainya berada di posisi bawah Rp 1 juta atau masih di bawah bagian pinjaman kecil. Untuk akumulasi penyebaran pinjaman sendiri telah mencapai Rp 155,9 triliun atau naik sebesar 91,3% secara tahunan (year on year/yoy) dengan outsanding peminjaman hingga Desember tahun lalu yang mencapai Rp 15,3 triliun dan naik 16,4% yoy.

Bambang juga menjelaskan,”Memang kami tidak berencana untuk memberikan pinjaman dengan nilai besar untuk sektor untuk koporasi, tetapi hanya untuk melayani masyarakat yang berpenghasilan rendah.

Berdasarkan laporan dari DSResearch dan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia pada tahun 2020 telah menunjukkan jika terdapat 36,1% peminjam (borrower) di sektor produktif dengan pinjaman sebesar Rp 2,5 juta – 25 juta. Kemudian, hanya 17,6% lebih dari Rp 500 juta.

Bersumber dari data yang dimiliki oleh Asosiasi Fintech Indonesia menunjukkan bahwa, rata-rata pinjaman fintech lending di sektor produktif (DSResearch & AFPI November 2020) yang tertinggi yaitu pada pinjaman Rp 2,5 juta – 25 juta, terendah pada pinjaman Rp 25 juta – Rp 100 juta dan pinjaman Rp 100 juta – Rp 500 juta.

Pada masa pandemi seperti sekarang ini, OJK meyakini jika pinjaman produktif dapat berguna untuk memulihkan bisnis pelaku UMKM yang sedang terpuruk bisnisnya. Bambang mengatakan,”Kami semua sangat yakin jika peningkatan pendanaan kepada sektor produktif dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar dan dapat mengaktifkan perekonomian melalui segmen bisnis UMKM”.

Tidak hanya itu, jika pinjaman yang terlalu banyak digunakan oleh sektor konsumtif, risiko kredit akan mengalami kemacetan yang susah dikendalikan. Oleh karena itu, OJK pun mengajak  fintech lending untul lebih banyak ditujukan kepada sektor produktif. “Semua platform fintech lending yang kami arahkan untuk ikut serta dalam menyebarkan pendanaan ke sektor produktif.”

Menyiapkan Peraturan dan Kerja Sama

OJK mengharapkan jika alokasi peminjaman untuk sektor produktif oleh fintech lending telah mencapai 60% dari total yang ada. Dalam mencapai target tersebut, tahun 2021 OJK telah menyediakan beberapa strategi. “OJK sedang dalam tahapan menyusun aturan dalam perubahan industri fintech lending yang dapat mendorong pinjaman sektor produktif” ucap Bambang.

OJK pun telah menyiapkan peraturan tersebut ketika tahun 2020 yang lalu. Beleid yang berkaitan dengan layanan pendanaan bersama dengan basis teknologi informasi akan menyempurnakan peraturan yang ada pada saat ini, yaitu Peraturan OJK Nomor 77 Tahun 2016.

OJK juga mengajak kepada fintech lending untukk menyebarkan pinjaman kepada sektor produktif dengan minimal 40% secara bertahap dalam kurun waktu tiga tahun. Yaitu minimal 15% pada tahun pertama dan 30% pada tahun kedua. Peraturan yang ada saat ini, fintech lending baru diharuskan untuk menyebarkan pinjaman kepada sektor produktif dengan minimal  peminjaman yaitu 20%.

Tidak hanya itu, OJK juga dapat mengajak para penyelenggara fintech lending untuk berkolaborasi dengan pemerintah juga perbankan dalam menyebarkan pinjaman kepada sektor produktif ataupun UMKM. Pada tahun 2020, ketika OJK berkolaborasi dengan AFPI dan pemerintah provinsi DKI untuk menyebarkan pinjaman bagi UMKM.

Adrian Gunadi sebagai Ketua Umum dari AFPI menyampaikan, jika asosiasi memang berencana untuk memperluas kerjasama dengan berbagai macam lingkungan yang ada pada tahun ini. Kolaborasi yang akan dilakukan menggandeng dari pemerintahan, perbankan dan perusahaan teknologi lainnya.

Pada tahun 2020 kemarin, tepatnya tanggal 30 September Adrian mengungkapkan,”Terdapat lembaga keuangan dan lingkungan teknologi seperti e-commerce dapat dititipkan. Itu berpotensi karena terus tumbuh”.

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

More in:Fintech

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *